Pengertian Manusia Purba, Sejarah, Jenis, dan Contoh Peralatannya

Posted on

Manusia Purba Adalah

Manusia purba adalah manusia yang hidup pada zaman prasejarah atau zaman sebelum manusia mengenal tulisan. Istilah “prasejarah” dapat merujuk pada rentang waktu yang luas sejak permulaan Semesta atau Bumi, tetapi lebih sering merujuk pada periode sejak kehidupan muncul di Bumi, atau bahkan lebih khusus pada waktu sejak makhluk mirip manusia muncul.

Pada zaman tersebut, terdapat banyak jenis manusia purba dengan ciri-ciri atau karakteristik yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa arti fosil manusia purba yang berhasil ditemukan, diantaranya yaitu  Meganthropus Palaeojavanicus, Plthecanthropus Mojokertensis, Homo Soloensis, dan lain-lain. Selain penemuan berupa fosil tubuh, ditemukan pula beberapa contoh peralatan yang digunakan oleh manusia pada zaman prasejarah, misalnya kapak genggam, alat serpih, kapak persegi, dan lain-lain.

Manusia Purba

Manusia purba disebut juga manusia prasejarah. Manusia purba tertua di dunia diperkirakan berumur lebih dari 4 juta tahun yang lalu. Oleh sebab itu, para ahli sejarah menyebutnya sebagai Prehistoric People atau manusia prasejarah.

Zaman prasejarah manusia merupakan periode antara penggunaan alat batu pertama sekitar 3,3 juta tahun yang lalu. Sistem penulisan paling awal muncul sekitar  5.300 tahun yang lalu, tetapi butuh ribuan tahun untuk menulis agar bisa diadopsi secara luas, dan itu tidak digunakan dalam beberapa budaya manusia sampai abad ke-19 atau bahkan sampai sekarang.

Oleh karena itu, akhir prasejarah datang pada tanggal yang sangat berbeda di tempat yang berbeda, dan istilah ini jarang digunakan dalam membahas masyarakat di mana prasejarah berakhir relatif baru-baru ini.

Sumer di Mesopotamia, peradaban lembah Indus, dan Mesir kuno adalah peradaban pertama yang mengembangkan naskah mereka sendiri dan menyimpan catatan arti sejarah; ini sudah terjadi pada Zaman Perunggu awal.

Sebagian besar peradaban lain mencapai akhir prasejarah selama Zaman Besi. Sistem tiga zaman pembagian prasejarah ke Zaman Batu, diikuti oleh Zaman Perunggu dan Zaman Besi, tetap digunakan untuk sebagian besar Eurasia dan Afrika Utara.

Periode ketika suatu budaya ditulis oleh orang lain, tapi belum mengembangkan tulisannya sendiri sering dikenal sebagai budaya protohistori Menurut definisi, tidak ada catatan tertulis dari prasejarah manusia, jadi penanggalan materi prasejarah sangat penting.

Pengertian Manusia Purba

Manusia purba atau manusia prasejarah ialah manusia yang hidup pada jutaan tahun yang lalu sebelum mereka mengenal tulisan. Terdapat banyak jenis manusia purba di dunia dengan beragam suku dan ras.

Beberapa peneliti mengemukakan bahwa manusia purba merupakan nenek moyang dari manusia modern saat ini. Ciri-ciri atau karakteristik yang menonjol dari manusia purba ialah cara mereka hidup secara nomaden atau berpindah-pindah tempat. Hal tersebut disebabkan karena mereka masih sangat bergantung dari sumber daya alam.

Ketika sumber daya alam di wilayah sekitar mereka telah habis atau sulit didapat, mereka akan berpindah ke wilayah lainnya. Mereka hidup secara berkelompok sehingga ketika mencari tempat tinggal baru pun bersama-sama.

Pengertian Manusia Purba Menurut Para Ahli

Berikut ini beberapa penelitian manusia purba yang dilakukan oleh para ahli di Indonesia, antara lain:

Eugena Dobois

Eugene Dubois merupakan ilmuan yang tertarik pertama kalinya untuk meneliti manusia purba di Indonesia setelah ia memperoleh kiriman sebuah fosil berupa tengkorak dari B.D Von Reitschoten yang menemukan tengkorak di Wajak, Tulung Agung.

Fosil itu dinamai Homo Wajakensis, yang termasuk dalam jenis Homo Sapien atau diartikan sebagai manusia yang sudah berpikir maju. Selain itu, ditemukan pula fosil Pithecanthropus Erectus pada tahun 1891 di daerah Trinil, tepi Bengawan Solo, dekat Ngawi.

G.H.R Von Koeningswald

Hasil penemuannya G.H.R Von Koeningswald yaitu berupa fosil tengkorak, yang Ia temukan di Ngandong, Blora. Pada tahun 1936, ditemukan tengkorak anak di Perning, Mojokerto. Pada tahun 1937 – 1941 ditemukan tengkorak tulang dan rahang Homo Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus di daerah Sangiran, Solo.

Fosil manusia purba lain yang berhasil ditemukan oleh  G.H.R Von Koeningswald yaitu berupa fosil tengkorak, rahang, tulang pinggul dan tulang paha manusia Meganthropus, Homo Erectus dan Homo Sapien di daerah Sangiran, Sambung Macan (Sragen),Trinil, Ngandong dan Patiayam (kudus).

T. Jacob

Penelitian tentang manusia Purba oleh orang-orang Indonesia sendiri dimulai pada tahun 1952 dibawah pimpinan Prof. DR. T. Jacob dari UGM. Penelitian tersebut dilakukan di daerah Sangiran dan sepanjang aliran Bengawan Solo.

Sejarah Manusia Purba

Ditinjau dari segi historisnya, penemuan manusia purba di Indonesia kebanyakan terjadi di wilayah Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Manusia purba di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak zaman quarter atau hidup sejak 600 ribu tahun yang lalu.

Zaman kuarter bisa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu zaman Dilluvium (pleistocen) dan zaman Alluvium (Holocen). Dr. Von Koenigswald mengemukakan bahwa Zaman Dilluvium di Indonesia terbagi menjadi 3 lapisan, yaitu:

  1. Dilluvium Bawah

Ini adalah lapisan tertua. Manusia purba yang hidup pada masa ini, yaitu:

  • Meganthropus Palaeojavanicus, ialah fosil manusia purba yang pertama atau tertua di Indonesia. Fosil tersebut ditemukan di daerah Sangiran.
  • Pithecanthropus Dubius, ialah fosil yang belum jelas apakah termasuk fosil manusia atau kera. Oleh sebab itu, fosil ini dinamai Pithecanthropus Dubius yang memiliki arti “manusia kera yang meragukan”. Fosil tersebut ditemukan di daerah Sangiran.
  • Pithecanthropus Robustus atau Plthecanthropus Mojokertensis, ialah fosil yang juga ditemukan di daerah Sangiran. Seorang sarjana bernama Weidenreich memberi nama fosil tersebut yaitu Pithecanthropus Robustus, sedangkan penemu lain bernama Von Koenigswald memberi nama fosil tersebut yaitu Plthecanthropus Mojokertensis sebab pertama kali ditemukan di dataran Mojokerto.
  1. Dilluvium Tengah

Fosil manusia purba yang ditemukan pada masa ini ialah Pithecanthropus Erectus. Penemu fosil ini adalah Dr. Eugene Dubois, yang mengatakan bahwa pada masa ini manusia purba sudah mampu berdiri tegak. Oleh sebab itulah Eugene Dubois menamainya Pithecanthropus Erectus yang memiliki arti manusia kera yang berjalan dengan tegak.

  1. Dilluvium Atas

Pada masa ini daerah di Ngandong, ditemukan fosil manusia purba termuda yang diberi nama Homo Soloensis, sedangkan fosil manusia purba yang ditemukan di daerah Wajak (Tulungagung) dengan jenis yang sama diberi nama Homo Wajakensis.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait corak kehidupan manusia purba yang masih sangat bergantung pada alam, diantaranya yaitu:

  1. Masa Berburu untuk Mengumpulkan Makanan

Corak kehidupan manusia purba pada masa berburu, yaitu:

  1. Tidak mempunyai tempat tinggal.
  2. Hidup sendiri atau dengan suatu kelompok kecil.
  3. Mengumpulkan makanan seperti umbi-umbian.
  4. Menggunakan kapak genggam untuk berburu hewan.
  5. Berlindung di dalam goa.
  6. Dapat membuat karya berupa lukisan cap jari tangan dan babi rusa dalam keadaan terpanah, yang biasanya diwarnai menggunakan warna hitam, putih, dan merah.
  1. Maca Bercocok Tanam

Corak kehidupan manusia purba ketika masa bercocok tanam, yaitu:

  1. Hidupnya mulai menetap pada suatu tempat dan dapat melakukan kegiatan bercocok tanam.
  2. Mulai menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit hewan atau suatu kulit kayu.
  3. Membuat rumah dari kayu.
  4. Jika tanah tidak subur, mereka akan berpindah tempat.
  5. Membuat alat-alat untuk bercocok tanam, seperti : mata panah, beliung persegi, kapak lonjong, dan perhiasan.
  1. Masa Mengenal Kepercayaan

Corak kehidupan manusia purba pada masa ketika sudah mengenal kepercayaan, yaitu:

  1. Melakukan suatu upacara-upacara tertentu, sebagai bukti adanya kekuatan yang melebihi diri mereka.
  2. Mulai terdapat bangunan yang besar untuk dijadikan sebagai tempat melakukan upacara tersebut.
  1. Masa Perundagian

Corak kehidupan manusia purba pada masa perundagian, yaitu:

  1. Mulai tinggal disebuah desa atau suatu perkampungan dalam waktu yang cukup lama.
  2. Mempunyai kemampuan utnuk mengolah logam, seperti cincin.
  3. Mengenal sistem barter untuk bisa mendapatkan logam.

Jenis Manusia Purba

Berikut ini jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia, antara lain:

Meganthropus Palaeojavanicus

Meganthropus Palaeojavanicus ditemukan sekitar tahun 1936 di daerah Sangiran. Manusia ini diperkirakan hidup sekitar satu hingga dua juta tahun yang lalu. Penemu fosil Meganthropus Palaeojavanicus ialah arkeolog asal Belanda, Van Koenigswald.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai tulang pipi yang tebal
  2. Mempunyai otot rahang kuat
  3. Bentuk tubuh yang tegap
  4. Tulang kening yang menonjol
  5. Tidak mempunyai dagu
  6. Mempunyai bentuk kepala dengan tonjolan di belakang yang tajam

Pithecanthropus Erectus 

Pithecanthropus Erectus merupakan manusia purba yang diperkirakan hidup di Indonesia sekitar satu hingga dua juta tahun yang lalu. Fosil yang pertama kali ditemukan yaitu fosil bagian geraham. Lokasi penemuannya di daerah Lembah Bengawan Solo, daerah Trinil, pada tahun 1890 oleh Dubois.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai tengkuk dan geraham (gigi) yang kuat
  2. Tubuhnya belum tegap sempurna
  3. Hidungnya tebal
  4. Dahinya lebih menonjol dan lebar
  5. Rata-rata tingginya 165 cm sampai 180 cm.
  6. Mempunyai volume otak sekitar 750 cc hingga 1350 cc

Pithecanthropus Soloensis 

Fosil manusia purba jenis ini ditemukan di daerah Ngandong, Solo pada tahun 1931 hingga 1933 oleh Openorth dan Van Koenigswald.. Penamaan Pithecanthropus Soloensis sebab ditemukan di Solo.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai tulang belakang menonjol
  2. Mempunyai rahang bawah yang kuat
  3. Hidungnya lebar
  4. Tulang pipi yang kuat serta menonjol
  5. Tingginya sekitar 165 hingga 180 cm
  6. Pemakan tumbuhan dan kerap juga berburu hewan untuk dijadikan makanan

Pithecanthropus Mojokertensis

Fosil Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan di daerah Mojokerto, Jawa Timur pada tahun 1939 oleh  Van Koenigswald, yaitu berupa fosil manusia purba yang diperkirakan masih berusia 6 tahun. Kemudian pada tahun 1936, Widenreich menemukan fosil lagi di kota yang sama.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai tulang tengkorak yang tebal
  2. Mempunyai badan tegap dengan ketinggian sekitar 165 sampai 180 cm
  3. Tidak mempunyai dagu dan
  4. Ketika penemuan, fosil Pithecanthropus Mojokertensis hancur saat sedang proses penggalian

Homo Floresiensis 

Penggunaan sebutan ‘homo’untuk manusia purba jenis ini yaitu karena telah memiliki kebiasaan yang hampir mirip dengan manusia modern saat ini. Mereka sudah mengerti berbagai kegiatan dan bisa disebut juga sebagai mahkluk ekonomi.

Penemuan fosil Homo Floresiensis yaitu di Pulau Flores Nusa Tengara. Mereka diperkirakan hidup 12 ribu tahun yang lalu dan telah mampu hidup berdampingan dengan jenis-jenis manusia purba lainnya.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai tinggi badan satu meter
  2. Bentuk dahinya sempit dan tak menonjol
  3. Tulang rahangnya menonjol
  4. Volume otaknya sekitar 380 cc serta tengkorak kepalanya yang kecil

Homo Wajakensis 

Homo Wajakensis hidup di zaman yang lebih modern dibandingkan jenis manusia purba sebelumnya. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan peralatan yang bersamaan dengan penemuan fosil manusia purbanya. Fosil tersebut ditemukan oleh Eugene Dubois di daerah Campur Darat Tulungagung Jawa Timur.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai bentuk wajah dan hidung datar dan lebar
  2. Tulang pipinya menonjol ke samping
  3. Letak hidung dan mulut sedikit jauh
  4. Tingginya sekitar 130 sampai 210 cm
  5. Sudah mampu berjalan tegap

Homo Soloensis 

Homo Soloensis ditemukan di Solo pada tahun 1931 oleh Weidenrich dan Koenigswald . Jenis manusia purba ini dikategorikan ‘homo’ sebab tergolong lebih cerdas, yang diperkirakan hidup sekitar 300.000 sampai 900.000 tahun yang lalu.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Mempunyai volume otak 1000cc hingaa 1300 cc
  2. Tinggi badannya mencapai 130 hingga 210 cm
  3. Tubuhnya tegap
  4. Mempunyai struktur tulang wajah yang tidak mirip dengan manusia kera

Homo Sapien 

Homo sapien merupakan jenis manusia purba yang usianya paling muda ditemukan dan mendekati seperti manusia modern saat ini. Mereka sudah mengenal kehidupan sosial dan berpikir cerdas.

Ciri-ciri manusia purba jenis ini, diantaranya yaitu:

  1. Bentuk tengkuk yang sudah kecil
  2. Tulang wajah tidak menonjol
  3. Mempunyai dagu dan tulang rahang yang tidak terlalu kuat
  4. Volume otaknya antara 1000 sampai 1200 cc.

Contoh Peralatan Manusia Purba

Beberapa contoh peralatan yang digunakan oleh manusia purba di Indonesia, antara lain:

  1. Kapak Genggam

Kapak genggam digunakan oleh manusia purba jenis Pithecanthropus untuk berburu. Peralatan yang satu ini memiliki struktur dan bentuk yang masih sangat sederhana, yaitu ada satu bagian yang tajam di salah satu sisinya. Lokasi penemuan kapak genggam diantaranya yaitu di Trunyan (Bali), Awangbangkal (Kalimantan Selatan), dan Kalianda (Lampung).

  1. Alat Serpih

Alat serpih merupakan alat yang digunakan oleh manusia purba untuk menusuk, memotong dan melubangi kulit binatang, dan terbentuk dari batu. Alat ini diperkirakan merupakan serpihan-serpihan dari batu yang dibuat sebagai kapak genggam. Penemuan alat serpih yaitu di Sangiran dan Gombong (Jawa Tengah), serta Cabbenge (Flores).

  1. Kapak Persegi

Kapak persegi merupakan alat yang terbuat dari batu berbentuk segi empat yang kedua sisinya diasah halus. Pada salah satu sisi pangkal, terdapat bagian berlubang untuk tangkai, sedangkan pangkal lainnya yaitu bagian yang tajam.

Kegunaannya yaitu untuk mencangkul, memahat, dan berburu. Lokasi penemuannya yaitu mulai dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi.

Itulah tadi materi lengkap yang bisa kami tuliskan kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian manusia purba menurut para ahli, sejarah, jenis, dan contoh peralatan atas peningalannya. Semoga memberikan edukasi sekaligus referensi. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *