Pengertian Diakronik, Ciri, dan Contohnya

Diposting pada

Diakronik Adalah

Berpikir diakronik dalam sejarah adalah cara berpikir yang kronologis atau sesuai urutan dalam menganalisis sesuatu. Sehingga bisa dikatakan bahwa dengan menggunakan cara berpikir diakronik, kajian sejarah lebih mementingkan segi proses, yaitu sejarah akan membicarakan suatu peristiwa tertentu yang terjadi pada suatu tempat tertentu sesuai dengan urutan waktu terjadinya.

Melalui cara berpikir atau pendekatan ini sejarah berusaha untuk menganalisis evolusi/perubahan dari waktu ke waktu terkait suatu peristiwa, yang memungkinkan seseorang untuk menilai bahwa perubahan itu terjadi sepanjang masa. Contoh penerapan cara berpikir diakronik dalam mengkaji peristiwa sejarah misalnya terjadinya Pertempuran di Surabaya dalam rentang waktu antara 27 Oktober 1945 sampai dengan 20 November 1945.

Diakronik

Istilah “Diakronik” berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata “dia” yang artinya “melalui” dan “chromos” yang artinya “waktu”, sehingga diakronik bisa diartikan sebagai adalah suatu yang melintas, melalui, dan melampaui dalam dalam batasan waktu. Model diakronik dalam mempelajari suatu hal lebih mengutamakan pada dimensi waktu, tapi hanya sedikit memperhatikan keluasan ruang, termasuk dalam ilmu sejarah.

Jika menggunakan model diakronik maka pembahasan tentang suatu gerak dalam waktu dari kejadian-kejadian yang konkret menjadi tujuan utama sejarah. Sehingga bisa dikatakan bahwa model diakronik adalah model yang dinamis, artinya memandang suatu peristiwa sebagai sebuah transformasi atau gerak sepanjang waktu.

Penerapan konsep berpikir diakronik dalam sejarah bertujuan agar dapat melihat perubahan yang terjadi dalam proses perkembangan suatu peristiwa. Berpikir secara diakronik dalam sejarah artinya berpikir mengenai peristiwa sejarah secara menyeluruh dalam runtutan waktu yang panjang, tetapi terbatas pada ruang.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait konsep berpikir diakronik, yaitu:

  1. Memandang kejadian dalam masyarakat sebagai suatu yang terus bergerak yang mempunyai hubungan kausal atau sebab-akibat;
  2. Mengkaji atau mempelajari kehidupan di masyarakat secara memanjang dan memiliki dimensi waktu;
  3. Bisa menguraikan proses perubahan peristiwa yang teus terjadi dari waktu-ke waktu.

Berdasarkan konsep tersebut, sejarawan bisa menggunakan konsep berpikir atau pendekatan diakronik untuk menganalisis dampak perubahan yang terjadi pada suatu variabel, sehingga sejarawan memiliki kemungkinan untuk mendalilkan mengapa keadaan tertentu muncul dari keadaan sebelumnya atau mengapa keadaan tertentu berkembang/berkelanjutan.

Berpikir diakronis lebih mementingkan proses dari suatu peristiwa sejarah, karena seperti yang telah kita ketahui bahwa sejarah ialah suatu kumpulan peristiwa. Tiap-tiap peristiwa yang terjadi dibatasi oleh waktu.

Sehingga dengan menerapkan cara berpikir ini mengajarkan kita untuk lebih teliti dalam mengamati segala atau fenomena tertentu dalam peristiwa sejarah. Cara berpikir diakronik menuntun kita untuk melihat suatu kejadian atau peristiwa sejarah dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, dalam berpikir diakronik, dibutuhkan pemahaman terhadap konsep periodisasi dan kronologi. Misalnya, apabila kita mempelajari tentang sejarah Pemilu di Indonesia, kita bisa melihat bahwa terjadi dinamika jumlah peserta pemilu.

Ketika pertama kali Pemilu diadakan di Indonesia pada tahun 1955, pemilu tersebut diikuti oleh banyak partai. Akan tetapi, pada era Orde Baru terjadi penyederhanaan jumlah partai pemilu, dan ketika era Reformasi, partai politik kembali diikuti oleh banyak partai.

Pengertian Diakronik

Diakronik adalah cara untuk berpikir secara runtut atau kronologis di dalam menganalisa atau meneliti suatu hal atau peristiwa tertentu. Kronologis itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu catatan tentang peristiwa / kejadian yang disajikan secara runtut berdasarkan waktu kejadian peristiwa.

Sehingga bisa dikatakan bahwa dengan menerapkan cara berpikir yang diakronis, kita diajari untuk berfikir secara kronologis, secara teratur dan berurutan. Kerangka berpikir yang diakronik membantu kita memahami kehidupan sosial secara memanjang berdimensi waktu.

Hal tersebut tentunya berbeda dengan kerangka berpikir sinkronik, yaitu cara berpikir yang meluas pada ruang tapi terbatas pada waktu, atau dengan kata lain cara berpikir sinkronik lebih menekankan pada pentingnya struktur yang terdapat dalam suatu kejadian atau peristiwa.

Pengertian Diakronik Menurut Para Ahli

Adapun definisi diakronik menurut para ahli, antara lain:

Merriam-Webster

Diakronik artinya berkaitan dengan, atau berurusan dengan fenomena (seperti bahasa atau budaya) ketika mereka terjadi atau berubah selama periode waktu.

The Literacy Encyclopedia

Diakronik adalah istilah yang menunjukkan “perubahan lintas waktu” yang banyak digunakan dalam linguistik selama 1960-an dan dari sana masuk teori kritis. Istilah ini kontras dengan “sinkronis” yang artinya “apa yang sama sepanjang waktu” atau “yang tanpa waktu”.

Sebagai contoh, sumbu sinkronik dalam penggunaan bahasa dapat dipahami sebagai keseluruhan korpus tata bahasa dan leksikon yang memungkinkan ujaran dibuat, sementara ujaran dihasilkan dalam waktu dan karenanya diakronis.

Sebuah studi sinkronis dari suatu bahasa mencoba untuk membangun sistem sebagai suatu kesatuan yang fungsional, sedangkan sebuah studi diakronis mempertimbangkan evolusi historisnya.

Ciri Diakronik

Cara berpikir diakronik memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan cara berpikir sinkronis. Ciri-ciri tersebut, antara lain:

  1. Mengkaji suatu kejadian sejarah seiring dengan berlalunya waktu.
  2. Memiliki cakupan kajian yang sangat luas.
  3. Kajianannya memanjang, dan mempunyai dimensi waktu.
  4. Lebih mementingkan proses ketika terjadinya suatu peristiwa.
  5. Terus bergerak dan memiliki hubungan kuasalitas.
  6. Bersifat dinamis, berproses dan bertransformasi.
  7. Bersifat naratif.

Contoh Diakronik

Berikut ini beberapa contoh peristiwa sejarah yang dikaji dengan menggunakan cara berpikir diakronik, antara lain sebagai berikut;

Pertempuran Ambarawa (20 Oktober sampai 15 Desember 1945)

Kronologi terjadinya pertempuran di Ambarawa pada tanggal 20 Oktober – 15 Desember 1945, yaitu:

  1. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Tentara Sekutu yang diboncengi NICA mendarat di Semarang.
  2. Pada tanggal 23 November 1945, pada pagi hari ketika matahari mulai terbit, mulai terjadi insiden tembak-menembak antara para pejuang kemerdekaan dengan para pasukan Sekutu.
  3. Pada tanggal 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar.
  4. Pada tanggal 12 Desember 1945 pukul 4.30 pagi, serangan mulai dilancarkan.
  5. Pada tanggal 15 Desember 1945, pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut kembali Ambarawa, sedangkan pasukan sekutu mundur ke Semarang.

Pertempuran Surabaya (27 Oktober sampai dengan 20 November 1945)

Kronologi terjadinya pertempuran di Surabaya pada tanggal 27 Oktober – 20 November 1945, yaitu:

  1. Pada tanggal 25 Oktober 1945, tentara Inggris bersama dengan NICA berhasil mendarat di Surabaya.
  2. Pada tanggal 27 Oktober 1945, setelah terjadinya insiden perobekan bagian biru bendera Belanda, terjadilah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris.
  3. Pada tanggal 29 Oktober 1945, terjadi gencatan senjata antara pihak Indonesia dengan pihak tentara Inggris.
  4. Pada tanggal 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30, meskipun gencatan senjata sudah dilakukan, tapi tetap terjadi bentrokan-bentrokan, yang puncaknya yaitu terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, yang merupakan pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur.
  5. Pada tanggal 10 November 1945, Pengganti Jendral Mallaby, yaitu Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang berisi perintah agar pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan gterhadap pihak Inggris.
  6. Akan tetapi, ultimatum tersebut tidak dihiraukan. Akibatnya pada tanggal 10 November 1945 pagi hari tentara Inggris melakukan serangan secara besar-besaran.

Pertempuran 5 Hari di Semarang (15 Oktober sampai dengan 19 Oktober 1945) 

Kronologi terjadinya pertempuran 5 hari di Semarang pada tanggal 15 Oktober – 19 Oktober 1945, yaitu:

  1. Pada hari Minggu tanggal 14 Oktober 1945, tawanan Jepang kabur.
  2. Tersiar kabar bahwa sumber air minum ada di Semarang telah diracun. Dr Kariadi yang hendak memeriksa sumber air tersebut dibunuh oleh tentara Jepang.
  3. Akibatnya pertempuran terjadi. Pertempuran tersebut berlangsung selama lima hari mulai dari 15 Oktober 1945 sampai tanggal 19 Oktober 1945.

Perang Padri (1821-1837)

Kronologi terjadinya Perang Padri pada tahun 1821-1837, yaitu:

  1. Perang terjadi antara kaum padri dengan kaum adat. Akan tetapi, pada tanggal 15 Juli 1825 terjadi perjanjian perdamaian di Padang. Perjanjian tersebut mengharuskan tentara Belanda ditarik ke Jawa.
  2. Pada tahun 1834, Belanda mengerahkan pasukannya untuk melakukan penggempuran terhadap pusat pertahanan kaum padri yang terdapat di bonjol.
  3. Pada tanggal 25 oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol tertangkap dan diasingkan ke Minahasa hingga akhir hayatnya.

Perang Diponegoro (1825-1830)

Kronologi terjadinya Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, yaitu:

  1. Pemerintahan kolonial berencana untuk melakukan pembangunan jalan agar sarana transportasi dan militer di Yogyakarta lancar.
  2. Pada tanggal 20 juli 1825, serdadu Belanda mengepung wilayah Tegalrejo.
  3. Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya menyusun strategi gerilya.
  4. Pada tahun 1827, Belanda menerapkan strategi Benteng Stelsel.
  5. Pada tahun 1829, Kiai Maja ditangkap.
  6. Pada 25 maret 1930, Pangeran Diponegoro tertangkap di Magelang.

Itulah tadi penjelasan dan pengulasan yang bisa kami berikan kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian diakronik menurut para ahli, ciri, dan contoh-contohnya yang ada di Indonesia. Semoga melalui artikel ini bisa memberikan referensi, trimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *